Rabu, 18 Juni 2014

In My Dream







Title           : In My Dream
Cast           : Kyu-Min

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

CIIIIIIIIIIIIITTT
BRRUUUUUKK

Suara decitan dan benturan itu membuat semua orang yang berada disana datang ke tempat kejadian.

Sebuah mobil berwarna hitam menabrak sebuah pohon besar. Sang pengemudi sudah tak sadarkan diri. Orang-orang yang berkerumunan disana pun langsung membantu mengeluarkan anak itu dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kyuhyun POV

Aku melangkahkan kakiku menyusuri taman ini. Satu per satu langkah membawaku dengan pasti ke dalam taman ini. Namun, telingaku menangkap sebuah suara. Suara yang kecil. Seperti suara isakan. Ada seseorang yang sedang menagis??

Aku mengikuti arah suara itu. Dan suara itu semakin terdengar jelas di telingaku. Itu! Aku mendapati seorang namja sedang menangis terisak disana. Aku menghampiri namja itu. Semakin mendekatinya.

“Kenapa kau menangis?”tanyaku pelan.

Namja itu mendongakkan kepalanya menatapku. Aku tersenyum melihatnya.

“Ommaku menyuruhku untuk tinggal dengan appaku.”jawabnya.
“Memangnya, apa yang terjadi dengan kedua orang tuamu?”tanyaku hati-hati.
“Appa dan ommaku bercerai karena appa ku ketahuan selingkuh. Semenjak itu, aku tinggal berdua dengan ommaku. Ommaku bekerja keras, banting tulang demi membiayai sekolahku, membiayai hidup kami. Tapi sekarang, omma tidak bisa lagi melakukan itu. Umur omma sudah tidak semuda dulu. Omma ku tak sanggup lagi bekerja keras membiayai hidup kami apalagi membiayai sekolahku. Maka dari itu omma menyuruhku untuk tinggal dengan appa.”katanya menceritakan semuanya padaku. Hatiku bergetar mendengar semua penjelasannya. Sungguh, dia anak yang tegar.

“Terus, kenapa kau menangis? Kau tidak suka tinggal dengan appamu?”tanyaku.
“Tidak. Aku tidak suka tinggal dengan appa.”
“Wae?”
“Aku takut dengan istrinya yang baru itu. Dia sangat kejam. Dan aku tidak mau meninggalkan omma sendirian.”

Oh Tuhan.. Dia begitu berbakti pada ommanya. Aku tersenyum lalu mengeluarkan dompetku.

“Ini. Mungkin ini bisa membantumu.”kataku mengeluarkan selembar cek.
“Tulis saja berapa yang kau mau.”lanjutku.
“Ani! Kau tidak perlu melakukan itu. Aku bisa mencari uang sendiri untukku dan ommaku.”
“Aniya! Ambil saja. Ini ku berikan karna kau namja yang begitu kuat.”
“Ah~ gomawoyo. Aku pasti akan menggantinya.”
“Tidak perlu. Aku ikhlas.”
“Jongmal gomawoyo. Siapa namamu?”tanyanya.
“Cho Kyuhyun. Kau?”
“Nan, Lee Sungmin.”
Dia tersenyum. Aku membalas senyumannya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Murid yang mendapatkan beasiswa ke kampus kita ini.”kata Kim sonsengnim.
“Ayo, masuk!”katanya memanggil murid baru itu.

Ketika itu, seorang namja memasuki kelasku.
Mwo??

“Ayo, perkenalkan dirimu.”
“Annyonghaseyo.. Je irumeun Lee Sungmin-imnida. Bangapseumnida. Semoga kita bisa berteman.”kata murid baru itu memperkenalkan dirinya.
“Ok! Sekarang kau bisa duduk di......... di samping Kyuhyun.”kata Kim sonsengnim menunjuk ke arahku.
“Ye, sonsengnim.”Dia berjalan mendekatiku. Dan duduk di kursi kosong disampingku.
“Wah~ kau sangat hebat! Kau bisa mendapatkan beasiswa ke kampus ini! Kampus ini kan kampus elite.”
“Kyuhyun-ah, kalau ingin berkenalan, nanti saja setelah pelajaran selesai ya.”
“Ye, sonsengnim.”
Sungmin hanya terkekeh kecil.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Chukkae! Kau memang sangat hebat!”
“Ini semua juga karna kau. Kalau bukan karna kau memberiku cek  itu, mungkin sampai sekarang aku sudah tidak bersekolah lagi.”katanya.
“Ah~ tidak perlu berterima kasih padaku. Toh, ini juga karena ke-pintaranmu.”
“Mau ku temani lihat-lihat kampus ini?”tawarku.
“Mmm.... Boleh.”
“Kajja!”

Aku menarik tangannya, mengajaknya berkeliling di kampus ini.

“Wah~ ruangannya luas sekali. Ini lebih luas dari rumahku.”kata Sungmin kagum.
“Ini Ruang musik. Biasanya, setiap siang anak-anak latihan disini.”
“Tuut tuut..”Sungmin menekan-nekan tuts piano yang berada di sudut ruangan.
“Kau pandai bermain piano?”tanyaku.
“Ya,, lumayan. Tapi, aku lebih tertarik pada Gitar. Waktu umurku 11 tahun, appaku memasukkan ku ke club musik. Dan aku mengambil Gitar.”
“Wah~ kau sungguh hebat! Aku saja tidak terlalu bisa bermain alat musik. Hanya sekedar bisa. Seperti piano sama harmonika. Tapi, aku lebih suka menyanyi. Banyak yang bilang suaraku bagus.”
“Jinja?? Aku ingin mendengarnya.”
“Keurae! Dashin na gateun saram saranghaji malgo
Dashin geuriwuhhal saram mandeulji malgo
Duhman barabogo nuh anim an dwesuh
Harudo mot buttil mankeum saranghae jooneun saram manna jaebal..”
“Baksu!”Katanya sambil bertepuk tangan.
“Gomawo..”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Kyuhyun-ah!”
“Ye, Sungmin-ah?”
“Ada yang ingin aku bilang ke kamu. Kemarin aku lupa menyampaikannya.”
“Mwo-ya?”
“Omma ku sangat berterima kasih atas bantuanmu. Dan ia juga mengundangmu untuk makan siang nanti di rumahku. Kau mau?”tanyanya.
“Jinja? Tentu saja aku mau.”
“Ok!”

-------

“Kajja! Pasti omma ku sudah menunggu.”
“Let’s go!”

-Sesampainya dirumah Sungmin-

“Annyonghaseyo! Omma, aku pulang!”
“Sungmin? Sudah pulang ya?”
“Ye. Omma, ini dia, namja yang aku ceritakan itu.”
“Ini dia? Tampan!”
“Gamsahamnida, ahjumma.”
“Neo irumeun mwo-ya?”
“Kyuhyun. Cho Kyuhyun.”
“Kyuhyun.. Nama yang bagus!”
“Gamsahamnida.”
“Kajja, kalian pasti lapar kan? Omma sudah masak banyak. Ayo kita makan.”


Ya Tuhan, Walaupun hidup tak seperti diriku, mereka masih bisa tertawa, tersenyum. Ini! Keluarga seperti ini yang ku inginkan. Bukan seperti keluargaku. Tidak ada yang perduli denganku. Sekali pun orang tuaku.

“Kyuhyun-ah, Kau kenapa? Bengong?”Tanya Sungmin mengibaskan tangannya di depan wajahku.
“Eh? Ania!”
“Tambah lagi nasi nya. Jangan sungkan-sungkan. Kamu sudah membantu kami. Hanya ini yang bisa  kami berikan.”
“Ye, ahjumma.”balasku.

-Selesai makan siang-

“Lain kali datang lagi kesini, ya. Anggap aja rumah sendiri.”kata Ommanya Sungmin.
“Ne, ahjumma. Aku pamit dulu. Terimakasih makan siangnya. Masakan ahjumma sangat enak.”pujiku. Sedangkan ahjumma hanya tersenyum tersipu malu.
“Aku antar kamu ke depan.”
“Annyong, ahjumma.”pamitku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Hai, Sungmin..”sapaku saat memasuki kelas.
“Hai, Kyuhyun-ah..”balasnya.
“Hm... nanti siang kau ada acara?”tanyaku.
“Nanti siang aku harus membantu ommaku mengantarkan jahitan yang sudah siap. Wae?”tanyanya.
“Ani! Apa boleh aku ikut membantumu?”
“Mwo? Kamu mau membantuku?”
Aku mengangguk cepat.
“Apa tidak merepotkanmu?”
Aku menggelengkan kepalaku.
“Boleh!”katanya tersenyum.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Ahjumma, jahitan ini sangat bagus. Sempurna!”kataku memuji hasil jahitan ahjumma. Ahjumma hanya tersenyum mendengar pujian ku.
“Sudah, Kyuhyun-ah. Kau terlalu sering memuji ahjumma. Gomawoyo.”
“Aku berkata dari lubuk hatiku, ahjumma. Ini memang sangat bagus.”
“Ah.. sudah hampir jam setengah 3. Ayo, kita antar ini.”ajak Sungmin.
“Aku pergi dulu, omma. Annyong!”
“Annyong! Hati-hati ya..”



“Seperti yang ku harapkan. Sangat sempurna. Ini uangnya. Sampaikan terima kasih dan salam ahjumma untuk ommamu, ne?”
“Ne, ahjumma. Aku pamit pulang dulu.”
“Ye.. Sungmin-ah..”

Setelah pergi dari kediaman ahjumma itu, aku mengajak Sungmin ke café sekitaran situ untuk sekedar beristirahat. Setelah itu, kami kembali berjalan menuju rumah Sungmin.

“Hm.. Sungmin-ah,,”panggilku.
“Ne?”
“Apa ommamu menyukai bunga?”tanyaku.
“Ye. Ommaku sangat menyukai bunga. Terutama bunga lily.”jawab Sungmin. Aku tersenyum lalu mengajaknya membeli bunga lily untuk ommanya.

-Sesampainya di rumah Sungmin-

“Wah... ini sangat indah.. Gomawoyo.. Sudah lama ahjumma tidak melihat bunga lily.”kata ahjumma sambil terus tersenyum memandang bunga lily yang ku beli dengan Sungmin tadi.
“Bunga lily ini memang sangat indah.. Sama seperti ahjumma.”kataku.
“Kau mau menggoda ahjumma? Sayang, ahjumma tidak tertarik dengan namja yang lebih muda dari ahjumma.”kata ahjumma dan kami bertiga tertawa kecil.
“Aku bukannya menggoda, ahjumma. Tapi aku serius. Bunga ini memang sangat indah seperti ahjumma.”
“Ahh.. gomawoyo.. Bunga ini harus di pajang disini. Nah... bagus kan?”
“Sangat bagus, omma.”kata Sungmin.

Kapan keluargaku seperti ini??

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sepulang kuliah, lagi-lagi aku mampir ke rumahnya Sungmin. Ahh... aku benar-benar iri dengan ke-akraban Sungmin dan ommanya. Kapan aku pernah se-akrab itu dengan ommaku? Tidak pernah sama sekali! Omma hanya mengurusi bisnisnya saja yang sedang naik daun itu.

“Kenapa ada suara rebut-ribut?”tanyaku pada Sungmin ketika tinggal beberapa meter lagi sampai rumah Sungmin.
“Omona, mereka datang!”pekik Sungmin. Ia membulatkan matanya, wajahnya pucat dan badannya tengang. Aku menatapnya intens.
“Waeyo? Mereka siapa?”tanyaku masih menatapnya menuntut jawaban. Sungmin tetap diam dalam posisi yang sama. Saat aku ingin bertanya kembali, sebuah suara yang sangat keras mengalihkanku.
“BERI WAKTU?? SUDAH BERAPA KALI KU BERI WAKTU UNTUKMU, AH?”suara itu sangat berat dan keras. Aku semakin bingung di tambah lagi Sungmin yang langsung berlari ke dalam rumahnya. Dengan segera aku menyusulnya.
“Mianhamnida, ahjussi.. Tapi kali ini kami benar-benar belum bisa membayarnya. Tolong beri kami waktu. Pasti kami akan membayarnya.”kata Sungmin.
“Orang seperti kalian mana mungkin bisa membayarnya. Kalian tau? Hutang kalian itu sudah banyak sekali. Rumah ini dan seluruh isinya saja masih kurang!”salah satu dari ahjussi itu membentak Sungmin dan Ommanya yang terus menangis di pelukan Sungmin.
“Memangnya berapa hutang mereka?”tanyaku sedikit lantang pada ahjussi itu.
“Siapa dia? Apa dia anakmu? Tapi terlihat sangat jauh berbeda.”bukannya menjawab pertanyaanku, mereka malah menanyakan hal yang lain.
“Aku bertanya berapa hutangnya?”tanyaku mengulangi pertanyaanku.
“50 juta won. Kenapa, eoh?”
“Hah, Cuma segitu? Aku akan membayarnya.”
“Kau? Membayarnya? Hahahaha bocah sepertimu mana mungkin mempunyai uang sebanyak itu.”
“Ini! Apa ini cukup?”tanyaku memberikan cek pada mereka. Mereka dengan cepat mengambilnya dan tersenyum.
“Wow.... kau sepertinya anak orang kaya. Aku tak tau ternyata kau mempunyai teman yang kaya.”kata ahjussi itu mengelus kepala Sungmin. Dengan tangkas, Sungmin menepis tangan itu.
“Atau mungkin kau sengaja memanfaatkannya, eoh?”tanya ahjussi itu lagi.
“Mwo? Apa kau bilang?”tanya Sungmin hampir saja memukul wajah ahjussi itu kalau tidak saja tanganku menahannya.
“Kalian semua pergi dari sini! Dan jangan pernah coba untuk kembali!”
“Gomawoyo, Kyuhyun-ah.”kata Sungmin pelan, menundukkan kepalanya.
“Aniya! Tidak perlu berterima kasih padaku.”
“Kau sudah terlalu banyak menolongku. Maaf, aku tidak bisa membalasnya.”
“Tidak perlu.. aku tidak memintamu untuk membalasnya.”
“Jongmal gomawoyo..”kata Sungmin lagi, memelukku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aku menelungkupkan kepalaku di atas meja. Bosan! Sangat bosan mendengar ceramahan materi dari Yong sonsengnim. Membuat kepalaku pusing tujuh keliling.
“Sampai disini perjumpaan kita hari ini.”kata Yong sonsengnim setelah jamnya selesai. Aku menghela nafas lega. Lega banget terbebas dari sonsengnim yang killer itu. Aku menolehkan kepalaku ke arah Sungmin. Dia sibuk memasukkan buku-bukunya kedalam tas.
“Sungmin-ah, hari ini kau mau kemana?”tanyaku.
“Tidak kemana-mana. Hari ini aku membantu omma membuatkan kue.”jawabnya masih sibuk dengan buku-bukunya.
“Apa boleh aku ikut membantu?”
“Tentu saja!”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Sungmin-ah, bisakah kamu menjawab soal yang nomor 2?”tanya Park sonsengnim pada Sungmin. Sungmin terlonjak kaget mengetahui namanya di panggil.
“Y.. ye, sonsengnim.”jawabnya gelagapan dan berjalan ke depan kelas. Dan saat di depan papan tulis, ia diam dan terlihat bingung. Kenapa? Bukankah itu sangat mudah? Kenapa dia tidak langsung menjawabnya?
“Waeyo, Sungmin-ah?”tanya Park sonsengnim. Sungmin tetap diam tak menjawab.
“Kau tidak bisa menjawabnya?”
“Mianhamnida, sonsengnim. Aku tidak bisa menjawabnya.”kata Sungmin.
“Ya sudah. Kamu boleh kembali duduk. Kibum-ah, kamu jawab soal nomor 2.”
Sungmin kembali ke tampat duduknya. Aku memerhatikan mimic wajahnya. Ia terlihat sangat gelisah. Ada apa dengannya?


“Kau kenapa, Sungmin-ah?”tanyaku saat kelas selesai.
“Aniyo. Aku tidak kenapa-kenapa kok.”jawabnya mencoba untuk tersenyum.
“Kau tidak bisa membohongiku. Kau kenapa?”
“Aku baik-baik saja. Sudahlah.. aku mau pulang dulu.”
“Aku ikut.”

Sesampainya di rumah Sungmin, dua orang namja berbadan kekar berdiri tegap dan sedikit tersenyum mendapati aku dan Sungmin di hadapan mereka.
“Akhirnya kau datang juga. Mana uangnya?”tanya salah satu dari mereka.
“Maaf, aku belum bisa membayarnya.”
“Mwo? Itukan tidak banyak. Cuma untuk membeli obat ommamu kan? Kenapa kau tidak bisa bayar?”
“Iya, tapi aku benar-benar belum bisa membayarnya.”
“Kau mempermainkan kami? Kau bilang hari ini pasti akan membayarnya. Mana?”
“Sungmin-ah, kau meminjam uang lagi?”tanyaku padanya.
“Tidak ada jalan lain. Ommaku sakit dan butuh obat.”
“Kenapa kau tidak bilang padaku?”
“Kau sudah banyak membantuku. Aku tidak mau merepotkanmu lagi.”
“Aku tidak pernah meresa di repotkan olehmu.”
“Ya! Kenapa kalian jadi ngobrol berdua? Sekarang berikan uangnya.”
“Aku benar-benar belum bisa membayarnya.”
“Aku tidak mau tau. Kau harus membayarnya hari ini.”
“Kenapa kau begitu kasar?”tanyaku pada namja itu.
“Minggir. Tidak usah ikut campur. Bukan urusanmu.”
“Ini urusanku!”
“Kau....” Buuuuukk namja itu memukulku.
“Kyuhyun-ah....”
“Mana uang nya?”
“Sudah ku bilang aku tidak bisa membayarnya!”
“Kalau kau tidak bisa membayarnya kenapa kau meminjamnya? Dasar bocah. Kau mempermainkan kami?”namja itu memukul Sungmin. Tak tinggal diam, aku membalas memukulnya. Dan akhirnya terus saling memukul. Hingga sebuah benda tajam menembus tepat di dadaku. Namja itu menusukku dengan pisau yang di bawanya.
“Kyuhyun-ah....”
“Ya! Apa yang kau lakukan, eoh? Ayo cepat lari sebelum ada yang melihat!”namja itu langsung kabur.
“Kyuhyun-ah....”panggil Sungmin. Aku tersenyum melihatnya.
“Bertahanlah, kumohon..”
“Sungmin-ah... terima kasih atas semuanya.. Annyong..”kataku sebelum aku benar-benar menutup mataku.
“Kyuhyun-ah.... Jebal! Bertahanlah...! Kyuhyun-ah.....”

.
.
.
.
.
.
.
.
.

“Kyuhyun-ah..... Kyuhyun-ah...”samar-samar aku mendengar seseorang memanggil namaku.
“Eng....”aku mencoba untuk membuka mataku. Berat rasanya. Perlahan-lahan, mataku terbuka. Aku mengerjapkan mataku.
“Kyuhyun-ah,, kau sadar? Syukurlah!”seseorang memelukku erat.
“Omma?”tanyaku setelah omma melepaskan pelukannya.
“Ye, sayang?”tanya omma. Aku mengedarkan pandanganku ke penjuru ruangan ini.
“Ini dimana, omma?”
“Di rumah sakit. Sudah 3 bulan kau koma dan tak sadarkan diri. Omma sungguh khawatir denganmu. Syukurlah kau akhirnya sadar.”
“3 bulan koma?”tanyaku. Aku masih tidak mengerti. Seingatku aku bersama Sungmin. Oh iya, mana Sungmin?
“Iya.. kau koma selama 3 bulan. Lama sekali bukan?”
“Sungmin mana omma?”tanyaku tanpa memperdulikan pertanyaan omma sebelumnya.
“Sungmin? Siapa itu?”
“Dia temanku, omma. Bukankah dia yang membawaku ke rumah sakit?”tanyaku. Omma mengerutkan dahinya.
“Wae?”tanyaku yang aneh dengan ekspresi wajah omma.
“Tidak ada yang bernama Sungmin yang membawamu kesini. Lagian, yang membawamu itu orang-orang yang melihat kecelakaanmu itu.”
“Kecelakaan?”tanyaku lagi. Aku semakin tidak mengerti.
“Kyuhyun-ah,, kau kenapa? Apa kau lupa? Kau kecelakaan. Mobilmu menabrak pohon besar di pinggir jalan .”
Aku mencoba mengingat kejadian itu. Benar! Aku menabrak sebuah pohon besar di pinggir jalan. Jadi, selama ini hanya mimpi? Semua kejadian bersama Sungmin hanya mimpi dari komaku?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Setelah sembuh dan keluar dari rumah sakit, aku kembali ke aktifitasku seperti biasa. Hari ini, aku ke taman. Taman tempatku bertemu dengan Sungmin. Entah mengapa kakiku membawaku ke tempat ini. Ramai! Sangat ramai disini. Aku menghirup udara yang begitu segar. Aku tersenyum hingga senyumku hilang saat aku mendengar sebuah suara isakan. Ada seseorang yang menangis. Aku berjalan mendekati arah suara itu. Persis seperti pertemuanku dengan Sungmin. Apakah yang menangis ini Sungmin? Aku mempercepat langkahku. Hingga menemukan seorang namja berumuran 5 tahun sedang menangis di tengah keramaian taman. Aku menghampiri anak itu.
“Kau kenapa?”tanyaku.
Dia berhenti menangis dan menghapus air matanya. “Adikku hilang, hyung. Padahal tadi dia terus bersamaku.”
“Mau hyung bantu mencari adikmu?” Dia mengangguk.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Murid yang mendapatkan beasiswa ke kampus kita ini.”kata Kim sonsengnim.
“Ayo, masuk!”katanya memanggil murid baru itu.

Aku langsung mendongakkan kepalaku. Melihat siapa murid baru itu. Seorang namja masuk ke kelasku.

“Annyonghaseyo, Shin Donghee-imnida. Semoga kita bisa berteman.”murid baru itu memperkenalkan dirinya.

Kenapa kejadiannya sama persis dengan mimpiku? Mulai dari seseorang yang menangis di taman, itu adalah awal pertemuanku dengannya. Dan sekarang murid baru, itu adalah pertemuan kedua kami dan kami menjadi begitu dekat.

Huuuuffftt apa dia memang hanya mimpi? Kebersamaan kami hanya mimpi belaka?  Kalau iya, aku lebih memilih untuk tidur selamanya. Agar aku dapat terus bersamanya.

Aku menoleh ke sampingku, tempat dimana Sungmin duduk di dalam mimpiku. Merasa aku memerhatikannya,  namja tersebut mendongakkan kepalanya melihatku dan tersenyum begitu manis............      Sungmin......


END   ^o^

Endingnya aneh ya?? Bingungkah??