Title : In
My Dream
Cast :
Kyu-Min
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
CIIIIIIIIIIIIITTT
BRRUUUUUKK
Suara decitan dan benturan itu membuat semua orang yang
berada disana datang ke tempat kejadian.
Sebuah mobil berwarna hitam menabrak sebuah pohon besar.
Sang pengemudi sudah tak sadarkan diri. Orang-orang yang berkerumunan disana
pun langsung membantu mengeluarkan anak itu dan segera membawanya ke rumah
sakit terdekat.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kyuhyun POV
Aku melangkahkan kakiku menyusuri taman ini. Satu per satu
langkah membawaku dengan pasti ke dalam taman ini. Namun, telingaku menangkap
sebuah suara. Suara yang kecil. Seperti suara isakan. Ada seseorang yang sedang
menagis??
Aku mengikuti arah suara itu. Dan suara itu semakin
terdengar jelas di telingaku. Itu! Aku mendapati seorang namja sedang menangis
terisak disana. Aku menghampiri namja itu. Semakin mendekatinya.
“Kenapa kau menangis?”tanyaku pelan.
Namja itu mendongakkan kepalanya menatapku. Aku tersenyum
melihatnya.
“Ommaku menyuruhku untuk tinggal dengan appaku.”jawabnya.
“Memangnya, apa yang terjadi dengan kedua orang
tuamu?”tanyaku hati-hati.
“Appa dan ommaku bercerai karena appa ku ketahuan
selingkuh. Semenjak itu, aku tinggal berdua dengan ommaku. Ommaku bekerja
keras, banting tulang demi membiayai sekolahku, membiayai hidup kami. Tapi
sekarang, omma tidak bisa lagi melakukan itu. Umur omma sudah tidak semuda
dulu. Omma ku tak sanggup lagi bekerja keras membiayai hidup kami apalagi
membiayai sekolahku. Maka dari itu omma menyuruhku untuk tinggal dengan
appa.”katanya menceritakan semuanya padaku. Hatiku bergetar mendengar semua
penjelasannya. Sungguh, dia anak yang tegar.
“Terus, kenapa kau menangis? Kau tidak suka tinggal dengan
appamu?”tanyaku.
“Tidak. Aku tidak suka tinggal dengan appa.”
“Wae?”
“Aku takut dengan istrinya yang baru itu. Dia sangat
kejam. Dan aku tidak mau meninggalkan omma sendirian.”
Oh Tuhan.. Dia begitu berbakti pada ommanya. Aku tersenyum
lalu mengeluarkan dompetku.
“Ini. Mungkin ini bisa membantumu.”kataku mengeluarkan
selembar cek.
“Tulis saja berapa yang kau mau.”lanjutku.
“Ani! Kau tidak perlu melakukan itu. Aku bisa mencari uang
sendiri untukku dan ommaku.”
“Aniya! Ambil saja. Ini ku berikan karna kau namja yang
begitu kuat.”
“Ah~ gomawoyo. Aku pasti akan menggantinya.”
“Tidak perlu. Aku ikhlas.”
“Jongmal gomawoyo. Siapa namamu?”tanyanya.
“Cho Kyuhyun. Kau?”
“Nan, Lee Sungmin.”
Dia tersenyum. Aku membalas senyumannya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Murid
yang mendapatkan beasiswa ke kampus kita ini.”kata Kim sonsengnim.
“Ayo, masuk!”katanya memanggil murid baru itu.
Ketika itu, seorang namja memasuki kelasku.
Mwo??
“Ayo, perkenalkan dirimu.”
“Annyonghaseyo.. Je irumeun Lee Sungmin-imnida.
Bangapseumnida. Semoga kita bisa berteman.”kata murid baru itu memperkenalkan
dirinya.
“Ok! Sekarang kau bisa duduk di......... di samping
Kyuhyun.”kata Kim sonsengnim menunjuk ke arahku.
“Ye, sonsengnim.”Dia berjalan mendekatiku. Dan duduk di
kursi kosong disampingku.
“Wah~ kau sangat hebat! Kau bisa mendapatkan beasiswa ke
kampus ini! Kampus ini kan kampus elite.”
“Kyuhyun-ah, kalau ingin berkenalan, nanti saja setelah
pelajaran selesai ya.”
“Ye, sonsengnim.”
Sungmin hanya terkekeh kecil.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Chukkae! Kau memang sangat hebat!”
“Ini semua juga karna kau. Kalau bukan karna kau memberiku
cek itu, mungkin sampai sekarang aku
sudah tidak bersekolah lagi.”katanya.
“Ah~ tidak perlu berterima kasih padaku. Toh, ini juga
karena ke-pintaranmu.”
“Mau ku temani lihat-lihat kampus ini?”tawarku.
“Mmm.... Boleh.”
“Kajja!”
Aku menarik tangannya, mengajaknya berkeliling di kampus
ini.
“Wah~ ruangannya luas sekali. Ini lebih luas dari
rumahku.”kata Sungmin kagum.
“Ini Ruang musik. Biasanya, setiap siang anak-anak latihan
disini.”
“Tuut tuut..”Sungmin menekan-nekan tuts piano yang berada
di sudut ruangan.
“Kau pandai bermain piano?”tanyaku.
“Ya,, lumayan. Tapi, aku lebih tertarik pada Gitar. Waktu
umurku 11 tahun, appaku memasukkan ku ke club musik. Dan aku mengambil Gitar.”
“Wah~ kau sungguh hebat! Aku saja tidak terlalu bisa bermain
alat musik. Hanya sekedar bisa. Seperti piano sama harmonika.
Tapi, aku lebih suka menyanyi. Banyak yang bilang suaraku bagus.”
“Jinja?? Aku ingin mendengarnya.”
“Keurae! Dashin na
gateun saram saranghaji malgo
Dashin geuriwuhhal saram mandeulji malgo
Duhman barabogo nuh anim an dwesuh
Harudo mot buttil mankeum saranghae
jooneun saram manna jaebal..”
“Baksu!”Katanya sambil bertepuk tangan.
“Gomawo..”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Kyuhyun-ah!”
“Ye, Sungmin-ah?”
“Ada yang ingin aku bilang ke kamu. Kemarin aku lupa
menyampaikannya.”
“Mwo-ya?”
“Omma ku sangat berterima kasih atas bantuanmu. Dan ia
juga mengundangmu untuk makan siang nanti di rumahku. Kau mau?”tanyanya.
“Jinja? Tentu saja aku mau.”
“Ok!”
-------
“Kajja! Pasti omma ku sudah menunggu.”
“Let’s go!”
-Sesampainya dirumah Sungmin-
“Annyonghaseyo! Omma, aku pulang!”
“Sungmin? Sudah pulang ya?”
“Ye. Omma, ini dia, namja yang aku ceritakan itu.”
“Ini dia? Tampan!”
“Gamsahamnida, ahjumma.”
“Neo irumeun mwo-ya?”
“Kyuhyun. Cho Kyuhyun.”
“Kyuhyun.. Nama yang bagus!”
“Gamsahamnida.”
“Kajja, kalian pasti lapar kan? Omma sudah masak banyak.
Ayo kita makan.”
Ya Tuhan, Walaupun hidup tak seperti diriku, mereka masih
bisa tertawa, tersenyum. Ini! Keluarga seperti ini yang ku inginkan. Bukan
seperti keluargaku. Tidak ada yang perduli denganku. Sekali pun orang tuaku.
“Kyuhyun-ah, Kau kenapa? Bengong?”Tanya Sungmin
mengibaskan tangannya di depan wajahku.
“Eh? Ania!”
“Tambah lagi nasi nya. Jangan sungkan-sungkan. Kamu sudah
membantu kami. Hanya ini yang bisa kami
berikan.”
“Ye, ahjumma.”balasku.
-Selesai makan siang-
“Lain kali datang lagi kesini, ya. Anggap aja rumah
sendiri.”kata Ommanya Sungmin.
“Ne, ahjumma. Aku pamit dulu. Terimakasih makan siangnya.
Masakan ahjumma sangat enak.”pujiku. Sedangkan ahjumma hanya tersenyum tersipu
malu.
“Aku antar kamu ke depan.”
“Annyong, ahjumma.”pamitku.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Hai, Sungmin..”sapaku saat memasuki kelas.
“Hai, Kyuhyun-ah..”balasnya.
“Hm... nanti siang kau ada acara?”tanyaku.
“Nanti siang aku harus membantu ommaku mengantarkan
jahitan yang sudah siap. Wae?”tanyanya.
“Ani! Apa boleh aku ikut membantumu?”
“Mwo? Kamu mau membantuku?”
Aku mengangguk cepat.
“Apa tidak merepotkanmu?”
Aku menggelengkan kepalaku.
“Boleh!”katanya tersenyum.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Ahjumma, jahitan ini sangat bagus. Sempurna!”kataku
memuji hasil jahitan ahjumma. Ahjumma hanya tersenyum mendengar pujian ku.
“Sudah, Kyuhyun-ah. Kau terlalu sering memuji ahjumma.
Gomawoyo.”
“Aku berkata dari lubuk hatiku, ahjumma. Ini memang sangat
bagus.”
“Ah.. sudah hampir jam setengah 3. Ayo, kita antar
ini.”ajak Sungmin.
“Aku pergi dulu, omma. Annyong!”
“Annyong! Hati-hati ya..”
“Seperti yang ku harapkan. Sangat sempurna. Ini uangnya.
Sampaikan terima kasih dan salam ahjumma untuk ommamu, ne?”
“Ne, ahjumma. Aku pamit pulang dulu.”
“Ye.. Sungmin-ah..”
Setelah pergi dari kediaman ahjumma itu, aku mengajak
Sungmin ke café sekitaran situ untuk sekedar beristirahat. Setelah itu, kami
kembali berjalan menuju rumah Sungmin.
“Hm.. Sungmin-ah,,”panggilku.
“Ne?”
“Apa ommamu menyukai bunga?”tanyaku.
“Ye. Ommaku sangat menyukai bunga. Terutama bunga
lily.”jawab Sungmin. Aku tersenyum lalu mengajaknya membeli bunga lily untuk
ommanya.
-Sesampainya di rumah Sungmin-
“Wah... ini sangat indah.. Gomawoyo.. Sudah lama ahjumma
tidak melihat bunga lily.”kata ahjumma sambil terus tersenyum memandang bunga
lily yang ku beli dengan Sungmin tadi.
“Bunga lily ini memang sangat indah.. Sama seperti
ahjumma.”kataku.
“Kau mau menggoda ahjumma? Sayang, ahjumma tidak tertarik
dengan namja yang lebih muda dari ahjumma.”kata ahjumma dan kami bertiga
tertawa kecil.
“Aku bukannya menggoda, ahjumma. Tapi aku serius. Bunga
ini memang sangat indah seperti ahjumma.”
“Ahh.. gomawoyo.. Bunga ini harus di pajang disini. Nah...
bagus kan?”
“Sangat bagus, omma.”kata Sungmin.
Kapan keluargaku seperti ini??
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sepulang kuliah, lagi-lagi aku mampir ke rumahnya Sungmin.
Ahh... aku benar-benar iri dengan ke-akraban Sungmin dan ommanya. Kapan aku
pernah se-akrab itu dengan ommaku? Tidak pernah sama sekali! Omma hanya
mengurusi bisnisnya saja yang sedang naik daun itu.
“Kenapa ada suara rebut-ribut?”tanyaku pada Sungmin ketika
tinggal beberapa meter lagi sampai rumah Sungmin.
“Omona, mereka datang!”pekik Sungmin. Ia membulatkan
matanya, wajahnya pucat dan badannya tengang. Aku menatapnya intens.
“Waeyo? Mereka siapa?”tanyaku masih menatapnya menuntut
jawaban. Sungmin tetap diam dalam posisi yang sama. Saat aku ingin bertanya
kembali, sebuah suara yang sangat keras mengalihkanku.
“BERI WAKTU?? SUDAH BERAPA KALI KU BERI WAKTU UNTUKMU,
AH?”suara itu sangat berat dan keras. Aku semakin bingung di tambah lagi
Sungmin yang langsung berlari ke dalam rumahnya. Dengan segera aku menyusulnya.
“Mianhamnida, ahjussi.. Tapi kali ini kami benar-benar
belum bisa membayarnya. Tolong beri kami waktu. Pasti kami akan
membayarnya.”kata Sungmin.
“Orang seperti kalian mana mungkin bisa membayarnya.
Kalian tau? Hutang kalian itu sudah banyak sekali. Rumah ini dan seluruh isinya
saja masih kurang!”salah satu dari ahjussi itu membentak Sungmin dan Ommanya
yang terus menangis di pelukan Sungmin.
“Memangnya berapa hutang mereka?”tanyaku sedikit lantang
pada ahjussi itu.
“Siapa dia? Apa dia anakmu? Tapi terlihat sangat jauh
berbeda.”bukannya menjawab pertanyaanku, mereka malah menanyakan hal yang lain.
“Aku bertanya berapa hutangnya?”tanyaku mengulangi
pertanyaanku.
“50 juta won. Kenapa, eoh?”
“Hah, Cuma segitu? Aku akan membayarnya.”
“Kau? Membayarnya? Hahahaha bocah sepertimu mana mungkin
mempunyai uang sebanyak itu.”
“Ini! Apa ini cukup?”tanyaku memberikan cek pada mereka. Mereka
dengan cepat mengambilnya dan tersenyum.
“Wow.... kau sepertinya anak orang kaya. Aku tak tau
ternyata kau mempunyai teman yang kaya.”kata ahjussi itu mengelus kepala
Sungmin. Dengan tangkas, Sungmin menepis tangan itu.
“Atau mungkin kau sengaja memanfaatkannya, eoh?”tanya
ahjussi itu lagi.
“Mwo? Apa kau bilang?”tanya Sungmin hampir saja memukul
wajah ahjussi itu kalau tidak saja tanganku menahannya.
“Kalian semua pergi dari sini! Dan jangan pernah coba
untuk kembali!”
“Gomawoyo, Kyuhyun-ah.”kata Sungmin pelan, menundukkan
kepalanya.
“Aniya! Tidak perlu berterima kasih padaku.”
“Kau sudah terlalu banyak menolongku. Maaf, aku tidak bisa
membalasnya.”
“Tidak perlu.. aku tidak memintamu untuk membalasnya.”
“Jongmal gomawoyo..”kata Sungmin lagi, memelukku.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku menelungkupkan kepalaku di atas meja. Bosan! Sangat
bosan mendengar ceramahan materi dari Yong sonsengnim. Membuat kepalaku pusing
tujuh keliling.
“Sampai disini perjumpaan kita hari ini.”kata Yong
sonsengnim setelah jamnya selesai. Aku menghela nafas lega. Lega banget
terbebas dari sonsengnim yang killer itu. Aku menolehkan kepalaku ke arah
Sungmin. Dia sibuk memasukkan buku-bukunya kedalam tas.
“Sungmin-ah, hari ini kau mau kemana?”tanyaku.
“Tidak kemana-mana. Hari ini aku membantu omma membuatkan
kue.”jawabnya masih sibuk dengan buku-bukunya.
“Apa boleh aku ikut membantu?”
“Tentu saja!”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Sungmin-ah, bisakah kamu menjawab soal yang nomor 2?”tanya
Park sonsengnim pada Sungmin. Sungmin terlonjak kaget mengetahui namanya di
panggil.
“Y.. ye, sonsengnim.”jawabnya gelagapan dan berjalan ke
depan kelas. Dan saat di depan papan tulis, ia diam dan terlihat bingung.
Kenapa? Bukankah itu sangat mudah? Kenapa dia tidak langsung menjawabnya?
“Waeyo, Sungmin-ah?”tanya Park sonsengnim. Sungmin tetap
diam tak menjawab.
“Kau tidak bisa menjawabnya?”
“Mianhamnida, sonsengnim. Aku tidak bisa menjawabnya.”kata
Sungmin.
“Ya sudah. Kamu boleh kembali duduk. Kibum-ah, kamu jawab
soal nomor 2.”
Sungmin kembali ke tampat duduknya. Aku memerhatikan mimic
wajahnya. Ia terlihat sangat gelisah. Ada apa dengannya?
“Kau kenapa, Sungmin-ah?”tanyaku saat kelas selesai.
“Aniyo. Aku tidak kenapa-kenapa kok.”jawabnya mencoba
untuk tersenyum.
“Kau tidak bisa membohongiku. Kau kenapa?”
“Aku baik-baik saja. Sudahlah.. aku mau pulang dulu.”
“Aku ikut.”
Sesampainya di rumah Sungmin, dua orang namja berbadan
kekar berdiri tegap dan sedikit tersenyum mendapati aku dan Sungmin di hadapan
mereka.
“Akhirnya kau datang juga. Mana uangnya?”tanya salah satu
dari mereka.
“Maaf, aku belum bisa membayarnya.”
“Mwo? Itukan tidak banyak. Cuma untuk membeli obat ommamu
kan? Kenapa kau tidak bisa bayar?”
“Iya, tapi aku benar-benar belum bisa membayarnya.”
“Kau mempermainkan kami? Kau bilang hari ini pasti akan
membayarnya. Mana?”
“Sungmin-ah, kau meminjam uang lagi?”tanyaku padanya.
“Tidak ada jalan lain. Ommaku sakit dan butuh obat.”
“Kenapa kau tidak bilang padaku?”
“Kau sudah banyak membantuku. Aku tidak mau merepotkanmu
lagi.”
“Aku tidak pernah meresa di repotkan olehmu.”
“Ya! Kenapa kalian jadi ngobrol berdua? Sekarang berikan
uangnya.”
“Aku benar-benar belum bisa membayarnya.”
“Aku tidak mau tau. Kau harus membayarnya hari ini.”
“Kenapa kau begitu kasar?”tanyaku pada namja itu.
“Minggir. Tidak usah ikut campur. Bukan urusanmu.”
“Ini urusanku!”
“Kau....” Buuuuukk namja itu memukulku.
“Kyuhyun-ah....”
“Mana uang nya?”
“Sudah ku bilang aku tidak bisa membayarnya!”
“Kalau kau tidak bisa membayarnya kenapa kau meminjamnya?
Dasar bocah. Kau mempermainkan kami?”namja itu memukul Sungmin. Tak tinggal
diam, aku membalas memukulnya. Dan akhirnya terus saling memukul. Hingga sebuah
benda tajam menembus tepat di dadaku. Namja itu menusukku dengan pisau yang di
bawanya.
“Kyuhyun-ah....”
“Ya! Apa yang kau lakukan, eoh? Ayo cepat lari sebelum ada
yang melihat!”namja itu langsung kabur.
“Kyuhyun-ah....”panggil Sungmin. Aku tersenyum melihatnya.
“Bertahanlah, kumohon..”
“Sungmin-ah... terima kasih atas semuanya..
Annyong..”kataku sebelum aku benar-benar menutup mataku.
“Kyuhyun-ah.... Jebal! Bertahanlah...! Kyuhyun-ah.....”
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Kyuhyun-ah..... Kyuhyun-ah...”samar-samar aku mendengar
seseorang memanggil namaku.
“Eng....”aku mencoba untuk membuka mataku. Berat rasanya.
Perlahan-lahan, mataku terbuka. Aku mengerjapkan mataku.
“Kyuhyun-ah,, kau sadar? Syukurlah!”seseorang memelukku
erat.
“Omma?”tanyaku setelah omma melepaskan pelukannya.
“Ye, sayang?”tanya omma. Aku mengedarkan pandanganku ke
penjuru ruangan ini.
“Ini dimana, omma?”
“Di rumah sakit. Sudah 3 bulan kau koma dan tak sadarkan
diri. Omma sungguh khawatir denganmu. Syukurlah kau akhirnya sadar.”
“3 bulan koma?”tanyaku. Aku masih tidak mengerti. Seingatku
aku bersama Sungmin. Oh iya, mana Sungmin?
“Iya.. kau koma selama 3 bulan. Lama sekali bukan?”
“Sungmin mana omma?”tanyaku tanpa memperdulikan pertanyaan
omma sebelumnya.
“Sungmin? Siapa itu?”
“Dia temanku, omma. Bukankah dia yang membawaku ke rumah
sakit?”tanyaku. Omma mengerutkan dahinya.
“Wae?”tanyaku yang aneh dengan ekspresi wajah omma.
“Tidak ada yang bernama Sungmin yang membawamu kesini.
Lagian, yang membawamu itu orang-orang yang melihat kecelakaanmu itu.”
“Kecelakaan?”tanyaku lagi. Aku semakin tidak mengerti.
“Kyuhyun-ah,, kau kenapa? Apa kau lupa? Kau kecelakaan.
Mobilmu menabrak pohon besar di pinggir jalan .”
Aku mencoba mengingat kejadian itu. Benar! Aku menabrak
sebuah pohon besar di pinggir jalan. Jadi, selama ini hanya mimpi? Semua
kejadian bersama Sungmin hanya mimpi dari komaku?
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Setelah sembuh dan keluar dari rumah sakit, aku kembali ke
aktifitasku seperti biasa. Hari ini, aku ke taman. Taman tempatku bertemu
dengan Sungmin. Entah mengapa kakiku membawaku ke tempat ini. Ramai! Sangat
ramai disini. Aku menghirup udara yang begitu segar. Aku tersenyum hingga
senyumku hilang saat aku mendengar sebuah suara isakan. Ada seseorang yang
menangis. Aku berjalan mendekati arah suara itu. Persis seperti pertemuanku
dengan Sungmin. Apakah yang menangis ini Sungmin? Aku mempercepat langkahku.
Hingga menemukan seorang namja berumuran 5 tahun sedang menangis di tengah
keramaian taman. Aku menghampiri anak itu.
“Kau kenapa?”tanyaku.
Dia berhenti menangis dan menghapus air matanya. “Adikku
hilang, hyung. Padahal tadi dia terus bersamaku.”
“Mau hyung bantu mencari adikmu?” Dia mengangguk.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Murid
yang mendapatkan beasiswa ke kampus kita ini.”kata Kim sonsengnim.
“Ayo, masuk!”katanya memanggil murid baru itu.
Aku langsung mendongakkan kepalaku. Melihat siapa murid
baru itu. Seorang namja masuk ke kelasku.
“Annyonghaseyo, Shin Donghee-imnida. Semoga kita bisa
berteman.”murid baru itu memperkenalkan dirinya.
Kenapa kejadiannya sama persis dengan mimpiku? Mulai dari
seseorang yang menangis di taman, itu adalah awal pertemuanku dengannya. Dan
sekarang murid baru, itu adalah pertemuan kedua kami dan kami menjadi begitu
dekat.
Huuuuffftt apa dia memang hanya mimpi? Kebersamaan kami
hanya mimpi belaka? Kalau iya, aku lebih
memilih untuk tidur selamanya. Agar aku dapat terus bersamanya.
Aku menoleh ke sampingku, tempat dimana Sungmin duduk di
dalam mimpiku. Merasa aku memerhatikannya,
namja tersebut mendongakkan kepalanya melihatku dan tersenyum begitu
manis............ Sungmin......
END ^o^
Endingnya aneh ya?? Bingungkah??

Tidak ada komentar:
Posting Komentar